My Dream Roadmap: Love and Kindness are Never Wasted

"Aku di sini, walau letih, coba lagi, jangan berhenti. Ku berharap, meski berat kau tak merasa sendiri. Kau telah berjuang menaklukkan hari-harimu yang tak indah. Biar 'ku menemanimu, membasuh lelahmu" -Budi Doremi🎶

Lirik lagu diatas kadang-kadang mengajak aku bernostalgia untuk melangkah mundur, menengok masa-masa dimana aku berada di keramaian, tetapi diselimuti rasa sepi. Ketika banyak orang hadir, namun rasa nyaman tak ikut mampir. Mungkin bukan hanya aku yang merasakan, mungkin semua juga pernah merasakan. Bagian dari krisis identitas dan pencarian makna diri, begitulah orang-orang menyebutnya.

sumber: https://www.freepik.com/
Tak semua orang berani mengakui bahwa ia merasa kesepian. Terkadang orang menolak kenyataan, merasa malu dengan keadaan yang seakan-akan tidak memberinya ruang perhatian. Pada akhirnya ia akan tetap sendiri, walau ia telah melangkah beribu-ribu kilometer jauhnya.

Sejak saat itu, aku ingin sekali menjadikan diriku sebagai aku yang mampu 'ada' untuk menemani orang lain. Bukan menjaga, hanya ingin menemani. Karena aku tahu, orang-orang diluar sana sangat banyak yang lebih hebat daripada aku. Mereka mampu menjaga diri dengan pundaknya masing-masing, hingga rapuhnya sering tertutup dan tak mau diakui💔

Aku senang ketika ada yang mau datang dan mengakui bahwa dirinya sedang tidak baik-baik saja. "Yes, baby, your feelings are valid!". Itulah salah satu kata yang menurutku sederhana, tapi sangat indah. Aku ingin lebih banyak orang yang tahu, bahwa apapun perasaan yang datang, biarkan saja dulu ia singgah dan dimaknai. Karena sendiri dan rasa sepi juga punya ruang untuk dihargai.

Sedikit cerita diatas akhirnya menjadi motivasiku untuk berkuliah di jurusan psikologi, yang katanya akan bisa membaca pikiran dan perasaan orang lain. Hehe.

Oh, hi! I'm so sorry! 
Aku sampai lupa memperkenalkan diri. Namaku Alifia Faza Salsabiila, bisa dipanggil Alifia, Faza, Fia, Alifai, Acha, dan masih banyak lagi panggilan sayang dari orang-orang sekitarku😂

hehe, ini aku >.<
Sepertinya sudah cukup jelas, bahwa aku adalah mahasiswa S1 Psikologi, tepatnya di Fakultas Psikologi Universitas Airlangga. Aku sudah melewati lima semester, dan, yeaaah, cukup banyak ilmu baru serta pengalaman menarik yang nggak akan bisa aku lupakan.

Di fakultas ini, aku merasa sangat banyak melewati proses tumbuh dan berkembang. Mulai dari hal akademik, non-akademik, hubungan interpersonal, sampai dengan hal yang berkaitan dengan self improvement.

Aku senang mengamati cara manusia belajar hal baru dari pengalaman indrawi dan lingkungannya. Itu menyenangkan! Karena aku bisa menambah perspektif baru, juga lebih tahu kalau setiap orang mempunyai cara berjuang yang berbeda-beda. Dari cara pandang tersebut, aku berencana untuk mengambil peminatan psikologi klinis pada saat semester enam nanti. Tentunya, karena aku memiliki minat dan motivasi yang cukup kuat pada kesehatan mental manusia. Di semester enam, aku juga ingin mulai mencari tempat magang yang berkaitan dengan peminatan psikologi klinis untuk lebih memperluas pengetahuan dan pengalamanku terkait bidang tersebut.

Setelah selesai menempuh semester enam, aku berencana untuk mengambil mata kuliah skripsi pada semester selanjutnya, yaitu semester tujuh, kurang lebih pada akhir tahun 2021. Dan insyaAllah bisa wisuda di awal tahun 2022, lalu mendapatkan pekerjaan yang layak dan sesuai dengan peminatan yang aku pilih... aamiin ya rabbal alamin... mau banget... huhu, tapi kok cepet yah😢

Oh, iya. Rasa sayangku pada ilmu psikologi selalu membuat aku berfikir, "semua orang harus tahu ini, ilmu psikologi itu nggak menakutkan". Seperti yang aku ceritakan di awal tadi, banyak orang yang kadang-kadang belum bisa memahami dirinya sendiri, sehingga dia belum tahu bagaimana cara menjalani hidup dan mengambil keputusan untuk langkah selanjutnya. Maka, aku sangat ingin membuat platform mengenai edukasi ilmu-ilmu psikologi. Kalau boleh, aku juga ingin menerbitkan buku terkait dengan refleksi diriku yang juga memuat sekilas ilmu psikologi❤ (bantu aamiin ya, teman-teman!)

Dari sekilas pengalaman tersebut nantinya di tahun 2024 aku ingin melanjutkan studi S2 Magister Profesi Psikologi, entah di Universitas Airlangga lagi, atau mungkin aku berpaling ke Universitas Gadjah Mada? Hehe, tergantung kondisi dan situasiku saat itu saja deh. Dimanapun itu, aku berharap semoga pengalaman dan pelajaran yang aku dapatkan selalu memiliki makna. Dan lagi-lagi, aku ingin menuliskan setiap pengalamanku pada buku refleksi diri, yang semoga bisa rutin aku terbitkan minimal dua tahun sekali... bisa lah ya... yok, pasti bisa... hwaiting!💪


Kemudian, aku ingin mengembangkan platform edukasiku menjadi biro psikoedukasi. Yang nantinya akan menjadi tempat untuk membantu dan membagikan ilmu terkait dengan bidang psikologi. Tidak hanya komunikasi satu arah, dalam jangka panjang aku juga ingin mengadakan seminar, forum diskusi, support group center, hingga mengadakan pelatihan untuk guru serta konselor anak dan remaja. Sekali lagi, aku ingin semua orang tahu bahwa, "ilmu psikologi itu wajib dimengerti oleh semua orang".

Aku mengerti, mungkin hampir semua orang ingin memaknai dan memahami dirinya sendiri. Salah satu yang mungkin jadi penghalang adalah terkadang mereka belum tahu cara untuk menemukan jati dirinya. Takkan bisa orang membersihkan seisi rumah bila ia tak tahu dimana letak pintunya. Maka, aku ingin membantu orang-orang yang kesulitan mencari letak pintu, dengan memberikan sebuah peta. Yang tidak memberi perintah, namun memberi arah.

Tidak ada yang mustahil dari usaha yang diiringi dengan doa. Niat baik akan pula berbuah baik.

Semangat untuk kita semua, semoga sehat selalu!❤




ALIFIA FAZA SALSABIILA
111811133076
PENGEMBANGAN DIRI C-1

Sakit Hati, Iyain Jangan?

"Konsekuensi terbesar dari jatuh hati adalah sakit hati"



Sekapat?



Ya, mungkin kalian ada yang ngga sadar kalau kata diatas typo. Terus kalian baca ulang. Hehe.

Sepakat ya.




Oke.


Curhat dikit.

Awalnya aku pernah berniat kalau bakal sering ngepost di blog, minimal sebulan sekali lah ya. Sempet mikir kalau waktu kuliah banyak LUANGNYA, ehh ternyata banyak UANGNYA, maksudnya tuh banyak pengeluaran gitu deh heuheu heu😭 serius lah baru sebulan kuliah rasanya mau nabung itu susah amat?! (curhat wkwk).




Tapi kuliah nggak bisa dijadiin kambing hitam sih harusnya :( Akunya aja yang males nulis HEHEHE alias masih belum nemu inspirasi buat nulis apa atau apa.


Atau apa?



Ya gatau.



Tapi semua berubah, ketika tiba-tiba ada seseorang yang menginspirasi aku... (cie sapa niih)





Haha bohong. Nggak ada.





Guys, sumpah, maaf, aku malah nulis ngga jelas...




Oke kita mulai topik yang sesungguhnya.






"Konsekuensi terbesar dari jatuh hati adalah sakit hati"


Sepakat?





Aku sih, yes.






Emang aku nulis begini inspirasinya bukan dari orang lain. Tapi dari diriku sendiri. Dan bukan berarti aku lagi jatuh hati atau sakit hati loh ya. Cuma kepikiran aja tentang konsekuensi-konsekuensi yang mungkin terjadi dari suatu hal yang pernah, atau sedang, atau akan kita lakukan. Mantab ngga tuh. (efek habis ospek sering dapet konsekuensi pelanggaran tugas).


Siapa sih yang ngga pernah sakit hati?


Rasanya, kecil kemungkinan kalau kita ngga pernah ngalamin yang namanya sakit hati. Bahkan dari hal-hal kecil pun, sakit hati bisa dirasakan kapan saja dan dimana saja. Termasuk kalau aku tahu kalian setelah baca tulisan di baris ini, terus udahan bacanya, gamau ngelanjutin sampe selesai. Sakit hati akutuh... :(



Tapi kali ini aku mau nulis aja sih, sakit hati yang dikarenakan jatuh hati (wah ya ini mulai baper wkwkw).


Tahu sih, nggak semua jatuh hati ujung-ujungnya sakit hati. Kalau lagi hoki ya hati berbunga-bunga, dunia serasa milik berdua. Ihiw.


Tapi kalau jatuh hati, terus dianya engga?


Kalau jatuh hati, dia juga suka, tapi digantungin aja?


Kalau jatuh hati, dia juga suka, tapi bilangnya "kamu terlalu baik buat aku"?


Kalau jatuh hati, dia ngasih kepastian, tapi ngga setia alias setiap tikungan ada?


Kalau jatuh hati, udah bersama-sama, tapi selalu egois satu sama lain, ngga ada yang mau ngalah?


Gimana?




Bukannya nulis begini dengan pikiran negatif atau punya perasaan buat nakut-nakutin "mending gausah jatuh hati nanti sakit hati". Bukan kok.



Sakit hati dari jatuh hati itu wajar.... dan akan selalu terjadi kalau kita ngga mempersiapkan pertolongan pertama pada kecelakaan hati (opo maneh iki?!). Toh namanya juga jatuh. Sakit enggaknya tergantung dari ketinggian jatuhnya (analogi: tingkat ketinggian = besar harapan).



Jadi, ya jangan dulu berharap banyak kalau belum mempersiapkan semua yang akan terjadi. Dunia ini penuh dengan pilihan, dan tiap pilihan punya konsekuensi masing-masing. Entah baik atau buruk kan ngga pernah tahu, kita cuma bisa mengusahakan apa yang diinginkan.



Fyi juga, ngga semua orang yang jatuh hati ingin rasanya tersampaikan. Iya kan?


Ada loh yang lebih suka diam-diam karena emang merasa belum waktunya ataupun belum cukup siap sama tanggungjawab yang harus dipegang.


Jatuh hati, ngga selamanya bikin sakit hati.


Satu poin penting, kalau memang tahu ada rasa itu muncul. Tanyakan pada dirimu di depan cermin.



"Apa aku siap buat menautkan rasa ini di dalam hati?"




Karena pertanyaannya dari kamu dan buat kamu, jadi yang tahu jawabannya ya cuma kamu.


Siap atau enggak?




Jatuh hati ≠ sakit hati. Tapi sakit hati bisa jadi dikarenakan jatuh hati.



Ya... jangan sampe lah :( lebih baik mencegah daripada mengobati.


Makanya hati-hati dengan hati.




Karena pilihan setelah sakit hati cuma ada dua, diikhlaskan atau mengikhlaskan.




Oke? :)








Aku nulis disini tanpa referensi apa-apa. Jadinya agak kacau dan ngga nyambung gitu (maap yah).




Intinya, sebelum melakukan sesuatu atau dihadapkan dengan sesuatu, jangan lupa persiapkan dan pertimbangkan dengan kemampuan dan kapasitas yang kalian miliki. Apalagi hati :)





Karena konsekuensi dari sebuah pilihan akan selalu ada, dimanapun kaki melangkah.




Timaaci sudah membaca!♡